Sabtu, 19 September 2026

Echoes of Achilles

Saat itu langit malam sedang berada pada kondisi yang sempurna, bintang-bintang bertabur dengan abstrak di angkasa sementara bulan ada pada posisi penuh. Malam yang harusnya dingin itu malah terasa hangat dan tentram bagi dua jiwa yang berada di bawah atap rumah kecil yang sederhana. Rumah kecil itu tidak istimewa perabotnya pun tidak lengkap dan tidak ada jendela sama sekali. Bagi dua jiwa itu, yang istimewa adalah hubungan persaudaraan mereka yang kuat mereka saling menyayangi dan saling melengkapi antara sang kakak dengan si adik maupun sebaliknya.

Tidak ada agenda makan malam, mereka tidak punya cukup uang dan persediaan bahan makanan hari itu. Namun anehnya, si adik malah tambah bersemangat setelah mendengar syair lanjutan dari pahlawan favoritnya Achilles.

Kegelapan mendekap kuat Achilles,

Nyanyikanlah simfoni amarah yang membara,

Dan saksikanlah di penghujung langit,

Rasa sakit tombak dari sang pendendam.

 Si adik melompat kegirangan betapa heroiknya sosok Achilles baginya. Menurut legenda setempat, Achilles berasal dari desanya dan merupakan penolong sekaligus pembebas dari penindasan yang pernah terjadi di wilayah Boreas yaitu bagian utara dari Kerajaan Erythia.

“Sungguh Achiles itu sangatlah keren. Beritahukan aku lebih banyak, kak. Orang seperti apa kira-kira Achilles itu?”

Melihat si adik masih berada di puncak antusiasnya, sang kakak menyayangkan jika itu berakhir andaikata dia menjawab tidak tau.

“Hmm” sang kakak bergumam berpikir seolah mengingat kejadian yang pernah terjadi semasa Achilles hidup.

“Dia seorang yang tegar, kuat dan pemberani. Seperti..” dia diam sejenak berpikir. “tukang pemanggang roti” jawabnya singkat sambil terkekeh pelan.

“Heeh? Kenapa harus tukang pemanggang roti? Memangnya mereka punya sifat seperti itu? Harusnya kan Achilles lebih mirip prajurit” adik laki-laki merasa bingung dan tidak terima, mata yang berbinar berganti dengan sorot mata kecewa. Menyadari ekspresi yang dibuat adiknya sang kakak tidak bisa menahan tawa.

“Hahahahaha! Wajah mu sangat lucu, Lucas. Kakak tidak bisa menahan tawa” Sang kakak seketika memegang perut dengan kedua tangannya tertawa bebas.

“Kakak sengaja ya mempermainkan aku? Kakak jahat, aku mau tidur saja” Lucas menghentakkan kakinya kesal karena merasa dipermainkan oleh sang kakak.

Melihat Lucas kesal rasa bersalah dan menyesal dalam hati sang kakak membuatnya berhenti tertawa.

“Tidak, tidak Lucas. Kakak tidak berbohong dan tidak berniat untuk membuat lelucon” sang kakak meraih kedua tangan Lucas dan menggenggam erat tangannya.

“Tukang pemanggang roti itu sering digambarkan pahlawan fajar yang memberikan makanan untuk semua orang. Dikesunyian malam, dimana orang masih terlelap mereka menyiapkan adonan, menunggu adonan tersebut mengembang, lalu memasukkannya di tungku yang panas. Semua adonan tersebut harus siap di pagi hari. Mereka terus berperang di kegelapan sama seperti Achilles” sang kakak menjawab dengan nada pelan agar makna dibaliknya tersampaikan dengan benar ke adik tercintanya.

“Kalau begitu, saat dewasa nanti aku mau jadi tukang pemanggang roti saja, seandainya aku tidak bisa menjadi prajurit kerajaan” Lucas menjawab dengan tatapan polos seraya melihat mata sang kakak.

Tanpa diduga sang kakak memeluk erat Lucas, mengusap pelan punggung belakangnya.

“Itu juga cita-cita yang mulia Lucas. Kakak berharap kau menjadi orang yang selalu berjalan di jalan yang benar”.

Kakak apakah kita masih melihat bulan yang sama?

1 komentar:

Dear Lyvia Watson

  Dear Lyvia Watson, Lyvia wanitaku, sudah dua tahun sejak aku berangkat dari Hereford ke ibu kota London maka sudah dua tahun juga tidak ...