Saat itu langit malam sedang berada pada kondisi yang sempurna, bintang-bintang bertabur dengan abstrak di angkasa sementara bulan ada pada posisi penuh. Malam yang harusnya dingin itu malah terasa hangat dan tentram bagi dua jiwa yang berada di bawah atap rumah kecil yang sederhana. Rumah kecil itu tidak istimewa perabotnya pun tidak lengkap dan tidak ada jendela sama sekali. Bagi dua jiwa itu, yang istimewa adalah hubungan persaudaraan mereka yang kuat mereka saling menyayangi dan saling melengkapi antara sang kakak dengan si adik maupun sebaliknya.
Tidak ada agenda makan malam, mereka tidak
punya cukup uang dan persediaan bahan makanan hari itu. Namun anehnya, si adik
malah tambah bersemangat setelah mendengar syair lanjutan dari pahlawan
favoritnya Achilles.
Kegelapan
mendekap kuat Achilles,
Nyanyikanlah
simfoni amarah yang membara,
Dan
saksikanlah di penghujung langit,
Rasa
sakit tombak dari sang pendendam.
Si
adik melompat kegirangan betapa heroiknya sosok Achilles baginya. Menurut
legenda setempat, Achilles berasal dari desanya dan merupakan penolong sekaligus
pembebas dari penindasan yang pernah terjadi di wilayah Boreas yaitu bagian
utara dari Kerajaan Erythia.
“Sungguh Achiles itu sangatlah keren.
Beritahukan aku lebih banyak, kak. Orang seperti apa kira-kira Achilles itu?”
Melihat si adik masih berada di puncak antusiasnya,
sang kakak menyayangkan jika itu berakhir andaikata dia menjawab tidak tau.
“Hmm” sang kakak bergumam berpikir seolah
mengingat kejadian yang pernah terjadi semasa Achilles hidup.
“Dia seorang yang tegar, kuat dan pemberani.
Seperti..” dia diam sejenak berpikir. “tukang pemanggang roti” jawabnya singkat
sambil terkekeh pelan.
“Heeh? Kenapa harus tukang pemanggang roti?
Memangnya mereka punya sifat seperti itu? Harusnya kan Achilles lebih mirip prajurit”
adik laki-laki merasa bingung dan tidak terima, mata yang berbinar berganti
dengan sorot mata kecewa. Menyadari ekspresi yang dibuat adiknya sang kakak
tidak bisa menahan tawa.
“Hahahahaha! Wajah mu sangat lucu, Lucas.
Kakak tidak bisa menahan tawa” Sang kakak seketika memegang perut dengan kedua
tangannya tertawa bebas.
“Kakak sengaja ya mempermainkan aku? Kakak
jahat, aku mau tidur saja” Lucas menghentakkan kakinya kesal karena merasa
dipermainkan oleh sang kakak.
Melihat Lucas kesal rasa bersalah dan
menyesal dalam hati sang kakak membuatnya berhenti tertawa.
“Tidak, tidak Lucas. Kakak tidak berbohong
dan tidak berniat untuk membuat lelucon” sang kakak meraih kedua tangan Lucas
dan menggenggam erat tangannya.
“Tukang pemanggang roti itu sering
digambarkan pahlawan fajar yang memberikan makanan untuk semua orang.
Dikesunyian malam, dimana orang masih terlelap mereka menyiapkan adonan,
menunggu adonan tersebut mengembang, lalu memasukkannya di tungku yang panas.
Semua adonan tersebut harus siap di pagi hari. Mereka terus berperang di
kegelapan sama seperti Achilles” sang kakak menjawab dengan nada pelan agar
makna dibaliknya tersampaikan dengan benar ke adik tercintanya.
“Kalau begitu, saat dewasa nanti aku mau jadi
tukang pemanggang roti saja, seandainya aku tidak bisa menjadi prajurit
kerajaan” Lucas menjawab dengan tatapan polos seraya melihat mata sang kakak.
Tanpa diduga sang kakak memeluk erat Lucas,
mengusap pelan punggung belakangnya.
“Itu juga cita-cita yang mulia Lucas. Kakak berharap
kau menjadi orang yang selalu berjalan di jalan yang benar”.
Hum hum
BalasHapus